Sobat Wakaf, tahukah kamu apa arti qurban yang sesungguhnya dalam Islam? Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah penting yang dilaksanakan oleh umat Muslim di seluruh dunia saat merayakan Hari Raya Idul Adha. Memahami arti qurban secara mendalam tidak hanya memperkuat keimanan kita tetapi juga memberikan makna yang lebih dalam pada pengorbanan yang kita lakukan.
Dalam bahasa Arab, kata “qurban” berasal dari kata “qaruba” yang berarti mendekatkan diri. Secara istilah, qurban adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu dengan tujuan beribadah. Apa itu qurban dalam pemahaman yang lebih luas? Yuk baca penjelasan lengkapnya di bawah ini!
Daftar Isi
Memahami Arti Qurban dalam Islam
Dalam ajaran Islam, qurban memiliki sejarah yang sangat penting terkait dengan kisah Nabi Ibrahim alaihis salam dan putranya Nabi Ismail alaihis salam. Kisah ini menceritakan bagaimana kepatuhan dan ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengorbankan putra kesayangannya.
Baca Juga: Ternyata Kurban Berasal dari Kata Ini!
Ketika Nabi Ibrahim alaihis salam bersiap melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, keikhlasannya diuji dengan sangat berat. Namun, berkat keteguhan iman dan kepasrahan total kepada Allah, pada akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menggantikan Nabi Ismail alaihis salam dengan seekor domba sebagai ganti.
Peristiwa inilah yang menjadi dasar pelaksanaan ibadah qurban oleh umat Islam hingga saat ini. Qurban bukan sekadar ibadah penyembelihan hewan, tetapi merupakan simbol kepatuhan dan pengorbanan diri untuk mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Sobat Wakaf perlu memahami bahwa esensi qurban terletak pada nilai ketakwaan yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran Surat Al Hajj ayat 37 yang artinya, “Daging dan darah hewan (qurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Definisi dan Hakikat Qurban
Pengertian Qurban Secara Bahasa dan Istilah
Secara bahasa, qurban berarti mendekatkan diri atau sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kata ini diambil dari akar kata “qaruba” yang bermakna dekat atau mendekatkan diri.
Dalam istilah syariat Islam, qurban didefinisikan sebagai penyembelihan hewan ternak tertentu pada waktu tertentu, yaitu pada hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hewan yang dapat dijadikan qurban adalah unta, sapi, kerbau, domba, atau kambing yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
Kedudukan Qurban dalam Syariat Islam
Ibadah qurban memiliki kedudukan yang istimewa dalam syariat Islam. Qurban hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
Meskipun terdapat perbedaan pendapat, semua ulama sepakat bahwa qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan yang besar. Nabi Muhammad subhanahu wa ta’ala sendiri selalu melaksanakan qurban setiap tahunnya selama beliau tinggal di Madinah.
Nilai-Nilai Penting dalam Ibadah Qurban
Nilai Ketakwaan dan Kepatuhan
Qurban mengajarkan kita tentang nilai ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika seseorang berkurban, ia sebenarnya sedang menunjukkan kesediaan untuk mematuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan mengorbankan apa yang ia cintai demi mendapatkan ridha-Nya.
Baca Juga: Kapan Idul Adha 2025 Dilaksanakan?
Ketakwaan yang terkandung dalam ibadah qurban tidak hanya terletak pada penyembelihan hewannya saja, tetapi juga pada niat dan keikhlasan hati pelakunya. Sobat Wakaf perlu memahami bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat pada bentuk fisik atau nilai material dari hewan qurban, melainkan pada ketakwaan yang ada dalam hati orang yang berkurban.
Nilai Sosial dan Kepedulian
Selain nilai ketakwaan, qurban juga mengandung nilai sosial yang sangat tinggi. Daging qurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan merupakan wujud kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.
Melalui ibadah qurban, terjadi pemerataan kesejahteraan di masyarakat. Orang-orang yang kurang mampu dapat merasakan kebahagiaan dan kelimpahan rezeki pada hari raya Idul Adha. Nilai sosial ini menjadi sangat penting di tengah kesenjangan ekonomi yang semakin melebar di masyarakat.
Nilai Rela Berkorban
Qurban mengajarkan kita untuk rela berkorban dan tidak terlalu mencintai harta duniawi. Dengan menyembelih hewan yang berharga, kita diingatkan bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah subhanahu wa ta’ala dan akan lebih bermakna jika digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Sikap rela berkorban ini sangat penting untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terbatas pada harta benda, tetapi juga waktu, tenaga, dan pemikiran untuk kebaikan bersama dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Hikmah Berkurban dalam Kehidupan Sehari-hari
Melatih Kedermawanan dan Menghindari Sifat Kikir
Ibadah qurban melatih kita untuk menjadi pribadi yang dermawan dan tidak kikir. Ketika seseorang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan qurban, ia sedang melawan sifat cinta berlebihan kepada harta dan sifat kikir dalam dirinya.
Hikmah ini dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan selalu bersedia berbagi kepada sesama dan tidak terlalu terikat pada harta duniawi. Sobat Wakaf, kedermawanan yang dilatih melalui ibadah qurban akan membentuk kepribadian yang mulia dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.
Menumbuhkan Rasa Syukur
Berkurban juga mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Kemampuan untuk membeli hewan qurban merupakan nikmat tersendiri yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Baca Juga: Idul Adha, Makan Dulu atau Sholat Dulu?
Dengan mensyukuri nikmat ini, hati akan menjadi tenang dan jiwa akan merasa damai. Rasa syukur yang tumbuh dari ibadah qurban akan memengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, membuat kita lebih bahagia dan ridha dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan.
Memperkuat Solidaritas Sosial
Qurban memperkuat ikatan persaudaraan dan solidaritas sosial di masyarakat. Ketika daging qurban dibagikan, tidak ada perbedaan status sosial antara pemberi dan penerima. Semua adalah saudara dalam Islam yang sama-sama merayakan kebahagiaan Idul Adha.
Nilai solidaritas ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan saling membantu dan peduli terhadap kesulitan sesama, masyarakat akan menjadi lebih kuat dan harmonis.
Sobat Wakaf, demikianlah arti qurban yang sebenarnya dalam Islam. Qurban bukan sekadar ritual tahunan yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha, tetapi merupakan manifestasi dari ketakwaan, kepedulian sosial, dan kerelaan berkorban yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan memahami makna dan hikmah qurban yang sebenarnya, kita dapat melaksanakan ibadah ini dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan. Nilai-nilai mulia yang terkandung dalam ibadah qurban hendaknya menjadi pedoman hidup yang selalu kita pegang teguh, tidak hanya pada momen Idul Adha tetapi sepanjang perjalanan hidup kita.
Setelah melaksanakan ibadah qurban, Sobat Wakaf bisa menyempurnakan amalan tersebut dengan cara sedekah – terutama sedekah jariyah. Maka dari itu, mari sempurnakan ibadah qurbanmu dengan bersedekah! Yuk klik tombol di bawah..

