Siapa itu Macklemore? Nama rapper asal Seattle, Amerika Serikat, ini kembali menjadi perhatian dunia pada September 2026 setelah ia dikeluarkan dari rangkaian tur Ed Sheeran di Amerika Serikat. Keputusan tersebut muncul setelah Macklemore menyuarakan dukungannya kepada Palestina ketika tampil sebagai artis pendamping Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey.
Dalam penampilannya, Macklemore meneriakkan “Free Palestine” dan menyampaikan dukungan kepada masyarakat Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Beberapa hari kemudian, promotor tur mengumumkan bahwa Macklemore tidak lagi menjadi artis pendamping untuk sisa rangkaian tur Amerika Serikat.
Peristiwa ini membuat nama Macklemore kembali ramai dibicarakan. Namun, siapa sebenarnya Macklemore? Bagaimana perjalanan kariernya hingga menjadi salah satu rapper independen paling sukses di Amerika? Dan mengapa ia begitu vokal menyuarakan isu Palestina?
Daftar Isi
Siapa Itu Macklemore?
Macklemore adalah nama panggung dari Benjamin Hammond Haggerty, rapper asal Seattle, Washington, Amerika Serikat, yang lahir pada 19 Juni 1983.
Ia mulai mengenal hip-hop sejak masih muda dan pada awal kariernya menggunakan nama Professor Macklemore. Pada 2000, ia merilis EP berjudul Open Your Eyes, sebelum kemudian mengeluarkan album pertamanya, The Language of My World, pada 2005.
Nama Macklemore kemudian semakin dikenal setelah ia bekerja sama dengan produser Ryan Lewis. Keduanya membentuk duo Macklemore & Ryan Lewis dan memilih jalur yang relatif independen dibandingkan bergabung dengan label besar.
Kolaborasi tersebut menghasilkan album The Heist pada 2012.
Album inilah yang kemudian mengubah karier Macklemore secara drastis.
Baca Juga: Benarkah Lamine Yamal Seorang Muslim?
Macklemore: Dari Jalur Independen ke Panggung Dunia
The Heist menjadi salah satu album hip-hop paling sukses pada awal 2010-an.
Salah satu lagu yang membuat nama Macklemore mendunia adalah Thrift Shop. Lagu tersebut bahkan mencapai posisi nomor satu Billboard Hot 100 di Amerika Serikat.
Lagu Can’t Hold Us juga kemudian mencapai posisi nomor satu di tangga lagu yang sama. Keberhasilan tersebut membuat Macklemore & Ryan Lewis menjadi salah satu duo hip-hop paling populer pada masanya.
Yang menarik, kesuksesan tersebut datang ketika keduanya masih mempertahankan pendekatan independen terhadap musik mereka.
Pada Grammy Awards 2014, Macklemore & Ryan Lewis memenangkan empat penghargaan, termasuk Best New Artist, Best Rap Album untuk The Heist, dan Best Rap Performance untuk Thrift Shop. Data resmi Grammy mencatat duo tersebut mendapatkan tiga kemenangan dari lima nominasi pada malam tersebut, dengan kategori Best New Artist, Best Rap Album, dan Best Rap Performance sebagai tiga kemenangan utama yang tercatat dalam halaman artis Grammy.
Kesuksesan Macklemore tidak hanya datang dari lagu-lagu seperti Thrift Shop dan Can’t Hold Us.
Ia juga dikenal sering memasukkan isu sosial ke dalam musiknya.
Salah satu contohnya adalah Same Love, lagu yang membahas kesetaraan bagi pasangan sesama jenis. Sementara itu, lagu White Privilege II yang dirilis bersama Ryan Lewis membahas persoalan ras dan privilese dalam masyarakat Amerika.
Dengan kata lain, pembahasan mengenai Macklemore sebagai musisi tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari kecenderungannya menggunakan musik sebagai medium untuk membicarakan isu sosial dan politik.
Kapan Macklemore Mulai Terang-Terangan Membela Palestina?
Sikap Macklemore terhadap Palestina semakin dikenal luas setelah pecahnya genosida di Gaza pada Oktober 2023.
Ia kemudian menggunakan media sosial dan panggung musiknya untuk menyuarakan dukungan kepada rakyat Palestina.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah lagu Hind’s Hall yang dirilis pada Mei 2024.
Judul tersebut merujuk pada Hamilton Hall di Columbia University, yang ditempati demonstran pro-Palestina dan kemudian disebut Hind’s Hall sebagai penghormatan kepada Hind Rajab, seorang anak Palestina yang tewas di Gaza pada 2024. Macklemore menyatakan bahwa hasil lagu tersebut akan disumbangkan untuk bantuan Palestina.
Lagu tersebut menjadi salah satu pernyataan politik Macklemore yang paling jelas mengenai konflik Israel-Palestina.
Dalam wawancara dengan Democracy Now! pada 2025, Macklemore menjelaskan bahwa keberanian mahasiswa yang melakukan demonstrasi pro-Palestina di kampus-kampus Amerika turut mendorongnya untuk berbicara secara terbuka mengenai Gaza. Ia juga mengatakan bahwa ia merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai seorang seniman yang mempunyai platform besar.
Pada periode berikutnya, Macklemore juga merilis Hind’s Hall 2 bersama rapper Palestina MC Abdul dan penyanyi Palestina-Amerika Anees.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa isu Palestina bukan sekadar tema satu lagu baginya, tetapi telah menjadi bagian yang cukup konsisten dari aktivitas publiknya.
Apa Itu Lagu Hind’s Hall?
Hind’s Hall merupakan salah satu lagu Macklemore yang paling erat dengan aktivisme Palestina.
Lagu tersebut terinspirasi dari aksi mahasiswa pro-Palestina di Columbia University pada 2024. Dalam lagu tersebut, Macklemore mengkritik dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dan menyerukan kebebasan bagi Palestina.
Macklemore kemudian menjadikan lagu tersebut sebagai bagian dari pertunjukan live-nya.
Dalam penampilannya bersama Ed Sheeran di MetLife Stadium pada September 2026, ia kembali membawakan Hind’s Hall sambil menampilkan visual mengenai kehancuran di Gaza. Penampilan tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu kontroversi yang membuat statusnya sebagai artis pendamping Ed Sheeran dipertanyakan.
Macklemore Teriak “Free Palestine” Saat Membuka Konser Ed Sheeran
Peristiwa terbaru yang membuat nama Macklemore kembali menjadi sorotan terjadi pada 4 September 2026.
Saat menjadi salah satu special guest dalam konser Ed Sheeran di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Macklemore menyampaikan pidato sekitar dua menit di atas panggung.
Ia mengatakan bahwa salah satu alasan dirinya ingin mengikuti tur tersebut adalah agar dapat berdiri di hadapan penonton stadion dan menyuarakan “Free Palestine”.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki tidak boleh dilupakan.
Konser tersebut memang secara resmi mencantumkan Macklemore sebagai salah satu special guest Ed Sheeran untuk pertunjukan 4 dan 5 September 2026 di MetLife Stadium. Informasi tersebut tercantum di situs resmi MetLife Stadium.
Pada penampilan berikutnya, 5 September, Macklemore kembali membicarakan Palestina.
Ia juga berusaha membedakan kritik terhadap pemerintah atau kebijakan Israel dengan kebencian terhadap orang Yahudi. Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa kritik terhadap Israel dan dukungan terhadap Palestina tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap masyarakat Yahudi.
Namun, penampilan tersebut kemudian memicu kontroversi yang lebih besar.
Mengapa Macklemore Dikeluarkan dari Tur Ed Sheeran?
Pada 14 September 2026, Macklemore mengumumkan bahwa dirinya tidak lagi menjadi artis pendamping untuk sisa rangkaian tur Amerika Serikat Ed Sheeran.
Promotor tur, Messina Touring Group, kemudian memberikan penjelasan bahwa sejumlah venue yang akan menjadi lokasi konser berikutnya telah memberi tahu mereka bahwa Macklemore tidak diperbolehkan tampil.
Menurut promotor, situasi tersebut berpotensi menyebabkan konser tidak dapat berlangsung di venue-venue tersebut. Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak, keputusan akhirnya diambil untuk mengeluarkan Macklemore dari sisa jadwal sebagai artis pendamping.
Macklemore sendiri memberikan versi yang lebih spesifik.
Menurut pernyataannya, Robert Kraft, pemilik New England Patriots dan Gillette Stadium, menghubungi pihak Ed Sheeran dan menekan agar Macklemore tidak tampil di venue tersebut. Macklemore juga mengatakan bahwa Kraft kemudian menghubungi pemilik stadion lain.
Menurut versi Macklemore, pesan yang diterima pihak tur pada dasarnya adalah bahwa konser tidak akan berlangsung apabila Macklemore tetap berada dalam lineup.
Klaim mengenai keterlibatan Kraft tersebut kemudian mendapatkan sebagian konfirmasi dari Kraft sendiri.
Apa Hubungan Robert Kraft dengan Dikeluarkannya Macklemore?
Robert Kraft adalah pemilik New England Patriots dan pihak yang terkait dengan Gillette Stadium di Massachusetts, salah satu venue yang dijadwalkan menjadi lokasi konser Ed Sheeran.
Kraft mengonfirmasi bahwa ia memang menolak Macklemore tampil di Gillette Stadium untuk dua konser Ed Sheeran yang dijadwalkan pada 25 dan 26 September 2026.
Namun, alasan yang diberikan Kraft berbeda dari cara Macklemore menggambarkan persoalan tersebut.
Dalam pernyataannya, Kraft mengatakan keputusan itu didasarkan pada “recent actions” Macklemore, materi yang dibagikan dari panggung ketika tampil di New Jersey, serta apa yang ia sebut sebagai sejarah retorika dan citra yang menurutnya antisemitik dan telah melukai komunitas Yahudi.
Kraft juga mengatakan bahwa keputusan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghapus penderitaan warga Palestina atau menyangkal hak seseorang untuk mengadvokasi mereka.
Ia menyatakan bahwa tujuannya adalah melawan antisemitisme dan kebencian, serta menawarkan untuk berdiskusi langsung dengan Macklemore mengenai persoalan tersebut.
Dengan demikian, penting untuk membedakan dua hal.
Kraft memang secara terbuka mengonfirmasi bahwa ia menolak Macklemore tampil di Gillette Stadium.
Namun, klaim bahwa Kraft sendirilah yang secara langsung menyebabkan Macklemore dikeluarkan dari seluruh sisa tur merupakan bagian dari versi Macklemore mengenai rangkaian peristiwa tersebut. Secara resmi, promotor menyatakan bahwa sejumlah venue tidak akan mengizinkan Macklemore tampil dan keputusan kemudian diambil setelah pembicaraan dengan para pemangku kepentingan.
Bagaimana Respons Ed Sheeran?
Ed Sheeran kemudian memberikan klarifikasi bahwa keputusan mengeluarkan Macklemore bukan berasal darinya.
Sheeran mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan keputusan promotor dan bukan keputusan pribadinya.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Kraft dan pihak-pihak lain untuk mencoba mencari jalan keluar dari persoalan tersebut. Sheeran menyatakan bahwa ia merasa terganggu dengan konflik Israel-Palestina, tetapi memilih untuk tidak menggunakan panggung profesionalnya sebagai forum politik.
Pernyataan ini penting karena posisi Sheeran berbeda dengan posisi Macklemore.
Macklemore menggunakan panggung tersebut secara terbuka untuk menyampaikan pesan politik mengenai Palestina, sedangkan Sheeran mengatakan bahwa penonton datang ke konsernya untuk menikmati musik dan bahwa ia tidak ingin menjadikan pertunjukannya sebagai forum politik.
Artis Pendamping Ed Sheeran Lainnya Ikut Mundur
Kontroversi tersebut kemudian berkembang lebih jauh.
Sejumlah artis yang terlibat dalam sisa rangkaian tur Ed Sheeran memutuskan untuk mundur.
Finneas, Aaron Rowe, Beoga, dan Lukas Graham mengumumkan bahwa mereka tidak akan melanjutkan keterlibatan mereka dalam tur tersebut. Beoga juga merupakan bagian dari kelompok musisi yang bermain bersama Sheeran dalam pertunjukannya.
Finneas menyatakan bahwa seniman tidak seharusnya dibungkam ketika berbicara mengenai kelompok yang tertindas.
Sementara itu, Lukas Graham mengatakan bahwa mereka merasa sulit melihat keluarga di berbagai tempat di dunia kehilangan orang yang mereka cintai dan bahwa musisi seharusnya dapat berbicara mengenai perang dan kematian warga sipil.
Akibatnya, persoalan yang awalnya hanya melibatkan Macklemore berkembang menjadi kontroversi yang lebih luas mengenai kebebasan berekspresi, tanggung jawab venue, promotor konser, dan posisi politik seorang musisi.
Associated Press juga menyoroti bahwa dalam industri konser besar, promotor biasanya memiliki kendali besar terhadap penyelenggaraan tur, sementara pemilik venue memiliki kekuasaan untuk menentukan apakah sebuah pertunjukan boleh berlangsung di tempat mereka.
Macklemore Kemudian Sumbangkan Bayaran Tur untuk Palestina
Setelah dikeluarkan dari tur, Macklemore kembali membuat pernyataan yang berkaitan dengan Palestina.
Pada 16 September 2026, ia mengumumkan bahwa dirinya akan menyumbangkan seluruh pendapatan bersih sebesar US$1 juta yang ia peroleh dari Ed Sheeran’s Loop Tour kepada enam organisasi yang bekerja untuk masyarakat Palestina dan bantuan di Gaza.
Ia juga menantang Robert Kraft untuk menyamai donasi tersebut.
Macklemore mengatakan bahwa fokusnya ingin dikembalikan kepada masyarakat Palestina dan bahwa kehidupan warga Palestina memiliki nilai yang sama dengan kehidupan manusia lainnya.
Langkah tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam kontroversi yang awalnya muncul dari pidato singkat di panggung MetLife Stadium.
Baca Juga: Wakaf Salman Dukung Pelayaran Kemanusiaan Global Sumud Flotilla untuk Gaza
Mengapa Macklemore Begitu Vokal Membela Palestina?
Jika melihat perjalanan Macklemore dalam beberapa tahun terakhir, dukungannya terhadap Palestina bukan sesuatu yang baru muncul pada tur Ed Sheeran.
Ia telah menyampaikan dukungan tersebut melalui musik, media sosial, wawancara, dan pertunjukan langsung.
Dalam wawancaranya dengan Democracy Now!, Macklemore menjelaskan bahwa ia awalnya takut berbicara mengenai Palestina karena menyadari adanya risiko terhadap kariernya. Namun, setelah melihat musisi lain berbicara dan melihat gerakan mahasiswa pro-Palestina, ia memutuskan untuk menggunakan platform yang dimilikinya.
Hind’s Hall kemudian menjadi salah satu simbol utama dari sikap tersebut.
Bagi Macklemore, musik bukan hanya hiburan. Ia melihat musik sebagai salah satu cara untuk menyampaikan cerita dan membangun perhatian terhadap isu sosial.
Pandangan tersebut sebenarnya konsisten dengan sejumlah bagian dari perjalanan kariernya sebelumnya, ketika ia juga menggunakan musik untuk membahas isu ras, identitas, kesetaraan, dan persoalan sosial lainnya.
Macklemore dan Kontroversi Tuduhan Antisemitisme
Pembahasan mengenai Macklemore juga tidak bisa dilepaskan dari kontroversi lain.
Robert Kraft dan sejumlah organisasi pro-Israel menuduh bahwa beberapa tindakan atau materi Macklemore telah melewati batas menjadi antisemitisme. Kraft secara khusus merujuk pada “broader history” dari retorika dan imagery yang menurutnya menyakiti komunitas Yahudi.
Di sisi lain, Macklemore membantah bahwa dukungannya terhadap Palestina merupakan bentuk kebencian terhadap orang Yahudi.
Dalam pernyataan setelah penampilannya di MetLife Stadium, ia mengatakan bahwa kritik terhadap Israel atau penolakan terhadap tindakan pemerintah Israel tidak ditujukan kepada masyarakat Yahudi sebagai kelompok.
Perdebatan mengenai apakah pernyataan atau tindakan tertentu Macklemore memenuhi definisi antisemitisme merupakan persoalan yang diperdebatkan oleh berbagai pihak. Karena itu, penting untuk membedakan fakta bahwa tuduhan tersebut telah disampaikan dari kesimpulan bahwa tuduhan tersebut telah terbukti.
Yang jelas, kontroversi tersebut menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Kraft ketika menjelaskan keputusannya mengenai penampilan Macklemore di Gillette Stadium.
Jadi, Siapa Itu Macklemore?
Macklemore adalah Benjamin Haggerty, rapper asal Seattle yang mulai dikenal luas melalui kolaborasinya dengan Ryan Lewis.
Album The Heist membawa mereka ke puncak popularitas melalui lagu seperti Thrift Shop, Can’t Hold Us, dan Same Love. Kesuksesan tersebut kemudian menghasilkan beberapa Grammy Awards pada 2014.
Namun, Macklemore juga dikenal sebagai musisi yang kerap membawa isu sosial ke dalam karya dan penampilannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu isu yang paling konsisten ia suarakan adalah Palestina. Ia merilis Hind’s Hall pada 2024, terlibat dalam Hind’s Hall 2, berbicara secara terbuka mengenai Gaza, dan pada September 2026 menggunakan panggung tur Ed Sheeran untuk meneriakkan “Free Palestine”.
Peristiwa tersebut kemudian membuatnya dikeluarkan dari sisa rangkaian tur Amerika Serikat Ed Sheeran setelah promotor menyatakan sejumlah venue tidak akan mengizinkannya tampil. Robert Kraft secara terpisah mengonfirmasi bahwa ia menolak Macklemore tampil di Gillette Stadium dan menjelaskan alasannya dengan merujuk pada tuduhan antisemitisme.
Kontroversi ini pada akhirnya membuat pertanyaan tentang Macklemore tidak lagi sekadar “siapa itu rapper Thrift Shop?”
Ia kini juga menjadi salah satu contoh musisi terkenal yang menggunakan panggung globalnya untuk menyuarakan posisi mengenai Palestina, sekaligus menghadapi konsekuensi profesional dan perdebatan publik akibat pilihan tersebut.
Dan hingga September 2026, persoalan tersebut belum berhenti pada Macklemore saja. Mundurnya sejumlah artis pendamping lain dari tur Ed Sheeran menunjukkan bahwa kontroversi ini telah berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas tentang batas kebebasan berekspresi seorang seniman, kekuasaan promotor dan pemilik venue, serta apakah panggung konser seharusnya menjadi ruang untuk menyuarakan persoalan politik dan kemanusiaan.
Yuk, klik tombol di bawah!

