Sobat Wakaf, memang apa saja larangan bulan Safar menurut Islam? Katanya, Safar bulan sial. Kepercayaan semacam ini ternyata sudah ada sejak zaman jahiliyah dan masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, justru ada beberapa larangan bulan Safar menurut Islam yang berkaitan dengan sikap dan keyakinan keliru tersebut, bukan larangan beraktivitas di bulan itu sendiri.
Memahami hal ini penting agar Sobat Wakaf tidak terjebak pada mitos yang justru bertentangan dengan akidah Islam. Islam mengajarkan bahwa setiap bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama baiknya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini agar Sobat Wakaf semakin memahami bulan Safar dari sudut pandang yang benar.
Daftar Isi
Mengenal Bulan Safar dalam Islam
Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah, tepat setelah bulan Muharram. Secara bahasa, kata Safar berasal dari kata “safira” yang berarti kosong, karena dahulu masyarakat Arab jahiliyah sering meninggalkan rumah untuk berdagang atau berperang sehingga kampung halaman menjadi sepi. Dari sinilah muncul berbagai mitos yang mengaitkan bulan ini dengan kesialan, bencana, dan nasib buruk.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam justru datang untuk meluruskan pandangan keliru tersebut. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada nasib sial karena burung, dan tidak ada kesialan karena bulan Safar. Hadits ini menjadi dasar utama bahwa segala bentuk kepercayaan terhadap kesialan bulan Safar sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.
Baca Juga: Sedekah Terbaik di Bulan Muharram Ternyata Mudah Dilakukan
5 Larangan Bulan Safar Menurut Islam yang Perlu Dipahami
Berikut ini lima hal yang sejatinya dilarang dalam Islam berkaitan dengan sikap terhadap bulan Safar. Larangan ini bukan tentang aktivitas fisik di bulan Safar, melainkan tentang keyakinan dan perbuatan yang menyimpang dari akidah tauhid.
1. Meyakini Safar sebagai Bulan Sial (Tathayyur)
Larangan pertama dan paling mendasar adalah meyakini bahwa bulan Safar membawa kesialan atau musibah. Keyakinan seperti ini disebut tathayyur dalam istilah syariat, yaitu perasaan pesimis atau bernasib buruk karena suatu tanda, waktu, atau kejadian tertentu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara tegas melarang sikap tathayyur karena bertentangan dengan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala semata.
Sikap tathayyur ini bahkan disebutkan dapat mengurangi kesempurnaan tauhid seorang muslim. Ketika seseorang meyakini bulan tertentu membawa kesialan, secara tidak langsung ia menyandarkan takdir pada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Sobat Wakaf perlu menjaga hati dan pikiran agar tidak terjerumus pada keyakinan semacam ini, sekecil apa pun bentuknya.
2. Menunda Pernikahan atau Hajat Besar karena Takut Sial
Larangan berikutnya adalah menunda pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha hanya karena khawatir tertimpa kesialan di bulan Safar. Praktik ini masih cukup umum dijumpai di sebagian masyarakat meskipun tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Padahal, tidak ada satu pun dalil sahih yang menyatakan bulan Safar sebagai waktu yang kurang baik untuk memulai sesuatu.
Menunda hajat penting karena alasan semacam ini justru dapat merugikan diri sendiri dan menghambat kebaikan yang seharusnya bisa segera dilakukan. Islam mengajarkan umatnya untuk bersegera dalam kebaikan, bukan menunda-nunda karena mitos yang tidak berdasar. Jika memang ada pertimbangan menunda pernikahan atau hajat besar, sebaiknya didasarkan pada kesiapan dan alasan yang logis, bukan karena kekhawatiran akan kesialan bulan tertentu.
3. Melakukan Ritual Tolak Bala yang Menyimpang
Di beberapa daerah, masih ditemukan tradisi ritual khusus untuk menolak bala di bulan Safar, seperti mandi Safar dengan niat tertentu yang dianggap dapat menghilangkan kesialan setahun penuh. Jika ritual tersebut dilandasi keyakinan bahwa air atau amalan itu sendiri yang mampu menolak bala tanpa izin Allah subhanahu wa ta’ala, maka hal ini termasuk perbuatan yang dilarang. Sebab, hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki kuasa untuk mendatangkan dan menghilangkan musibah dari hamba-Nya.
Islam tidak melarang seseorang berikhtiar dan berdoa memohon perlindungan, namun caranya harus sesuai tuntunan syariat. Doa, dzikir, sedekah, dan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah bentuk ikhtiar yang dianjurkan, bukan ritual dengan tata cara yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sobat Wakaf perlu berhati-hati agar niat baik untuk menghindari musibah tidak justru terjerumus pada perbuatan bid’ah.
4. Menyebarkan Mitos Tanpa Dasar kepada Orang Lain
Larangan keempat adalah menyebarluaskan cerita, mitos, atau kepercayaan tentang bulan Safar kepada keluarga maupun masyarakat tanpa memverifikasi kebenarannya menurut syariat. Kebiasaan menyebarkan informasi keliru ini dapat memperkuat kesalahpahaman yang sudah lama beredar di tengah masyarakat. Padahal, sebagai muslim, kita dianjurkan untuk menyampaikan ilmu yang benar dan sesuai dengan tuntunan Al Quran serta hadits.
Menyebarkan mitos tanpa dasar juga berisiko menimbulkan keresahan dan ketakutan yang tidak perlu di tengah masyarakat. Alih-alih menyebarkan cerita seram tentang bulan Safar, Sobat Wakaf bisa berperan aktif mengedukasi orang-orang terdekat tentang pandangan Islam yang sebenarnya. Dengan begitu, pemahaman yang benar dapat menggantikan kepercayaan yang keliru secara bertahap.
5. Berputus Asa dan Berburuk Sangka kepada Takdir Allah
Larangan terakhir yang tidak kalah penting adalah bersikap pesimis, cemas berlebihan, atau berburuk sangka kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala selama bulan Safar berlangsung. Sikap ini termasuk bentuk lain dari su’udzon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang jelas dilarang dalam ajaran Islam. Setiap muslim justru dianjurkan untuk senantiasa berbaik sangka dan optimis dalam menjalani setiap waktu, termasuk bulan Safar.
Baca Juga: 5 Peristiwa di Bulan Muharram yang Harus Kamu Ketahui
Rasa cemas berlebihan terhadap suatu bulan juga dapat mengganggu ketenangan batin dan produktivitas seseorang dalam beribadah maupun bekerja. Padahal, ketenangan hati hanya bisa diraih dengan tawakal dan keyakinan penuh bahwa segala ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengandung hikmah.
Sobat Wakaf, kini sudah jelas bahwa bulan Safar sejatinya sama seperti bulan-bulan lain dalam Islam, tidak membawa kesialan apa pun bagi siapa saja yang menjalaninya. Lima larangan yang telah dibahas di atas justru mengajarkan kita untuk menjauhi keyakinan dan perbuatan yang menyimpang dari tauhid yang murni.
Mari jadikan setiap bulan, termasuk Safar, sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya melalui sedekah dan wakaf. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan dapat meluruskan pemahaman yang selama ini mungkin masih keliru.
Yuk, klik tombol di bawah!

