Kabar soal dajjal muncul di Iran ini bermula dari satu angka yang dianggap terlalu kebetulan oleh banyak warganet, yaitu angka 70.000 pasukan musuh yang akan menyerang Iran. Belum lagi, dalam beberapa hari terakhir media sosial diramaikan oleh kabar yang membuat banyak umat Islam berdebar. Sebuah narasi yang mengaitkan perang Iran-Israel dengan tanda kemunculan Dajjal mendadak viral, terutama di platform X (sebelumnya Twitter). Sobat Wakaf, sebelum ikut-ikutan membagikan informasi tersebut, ada baiknya kita pahami dulu dari mana asalnya dan apa sebenarnya yang terjadi.
Pada akhir Februari 2026, militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, termasuk ke Kota Isfahan. Di tengah panasnya situasi tersebut, warganet mancanegara di X menyatakan bahwa pejabat militer Israel mengumumkan rencana pemanggilan sekitar 70.000 personel cadangan. Angka inilah yang kemudian langsung dikaitkan oleh warganet dengan sebuah hadis sahih tentang ciri pengikut Dajjal di akhir zaman. Alhasil, tagar dan diskusi tentang Dajjal, Imam Mahdi, hingga tanda-tanda kiamat pun membanjiri lini masa banyak orang. Padahal berita pemanggilan 70.000 personel tersebut hingga saat ini tidak terkonfirmasi kebenarannya.
Meski begitu, pertanyaan yang sama tentang benarkah dajjal muncul di Iran teruslah muncul. Hal yang wajar mengingat ada hadits yang menyatakan demikian. Dari pada berdebar tidak jelas, mari kita simak dulu ulasan di bawah ini!
Daftar Isi
Baca Juga: Ternyata Ini Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Awal Mula Berita Dajjal Muncul di Iran
Semuanya bermula dari sebuah unggahan di platform X yang mengutip pernyataan resmi juru bicara militer Israel – yang nyatanya tidak terkonfirmasi kebenarannya. Pernyataan itu berbunyi bahwa Israel berharap dapat memanggil 70.000 tentara cadangan dalam beberapa hari ke depan, sebagian besar dari pasukan pertahanan udara. Unggahan tersebut kemudian diterjemahkan dan disebarluaskan oleh warganet Indonesia, dan dalam waktu singkat memicu spekulasi yang sangat luas.
Yang membuat unggahan itu begitu cepat viral bukan semata karena beritanya, melainkan karena angka 70.000 langsung dikaitkan dengan sebuah hadits dari Shahih Muslim nomor 7.034. Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 Yahudi dari Isfahan, sebuah kota di Iran, yang mengenakan selendang khas Persia. Kebetulan angka dan keterlibatan wilayah Iran inilah yang membuat banyak orang merinding dan ramai membahasnya.
Hadits Tentang Dajjal Muncul di Iran
Hadits Shahih Muslim
Hadits yang menjadi pusat perdebatan ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, sebagaimana tercatat dalam Shahih Muslim nomor 7.034. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa Dajjal akan datang bersama 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan pakaian atau selendang khas Persia. Hadits ini adalah hadits sahih yang memang diakui keabsahannya oleh para ulama, sehingga tidak bisa dianggap enteng begitu saja.
Ada pula riwayat lain dari Imam Ahmad yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya An-Nihayah, yang menyebut bahwa bersama Dajjal terdapat 70.000 orang Yahudi yang masing-masing membawa mahkota dan pedang terhunus. Dua riwayat ini memang memiliki kesamaan angka, dan keduanya sahih. Namun yang perlu dicatat, hadis-hadis ini menggambarkan peristiwa yang akan terjadi saat Dajjal benar-benar telah muncul, bukan sebagai deskripsi dari situasi militer masa kini.
Apakah Kesamaan Angka Berarti Ini Sudah Tanda-tandanya?
Para ulama dengan tegas mengingatkan bahwa kesamaan angka tidak secara otomatis menunjukkan adanya keterkaitan makna. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis tentang Dajjal muncul di Iran harus dipahami sebagaimana zahirnya, tanpa menafsirkannya secara spekulatif kepada peristiwa tertentu kecuali ada dalil yang jelas dan kuat. Artinya, angka 70.000 dalam hadis merujuk pada kondisi yang sangat spesifik di masa kemunculan Dajjal, bukan pada setiap peristiwa yang kebetulan melibatkan jumlah yang sama.
Hingga saat ini, tidak ada satu pun otoritas keagamaan arus utama yang secara resmi menghubungkan peristiwa militer Iran-Israel dengan tanda-tanda kiamat besar. Banyak netizen yang justru saling mengingatkan di kolom komentar, bahwa Imam Mahdi pun belum dibaiat di Mekkah, sementara menurut urutan yang paling umum dijelaskan para ulama, Imam Mahdi harus muncul sebelum Dajjal keluar. Jadi, menyebut Dajjal sudah ada di sekitar kita berdasarkan angka semata adalah sebuah langkah yang terlalu jauh.
Waspada Cocoklogi
Sobat Wakaf, fenomena yang terjadi ini sebenarnya termasuk dalam apa yang sering disebut sebagai ‘cocoklogi’, yakni upaya mencocok-cocokkan sebuah kejadian dengan teks agama secara sembarangan hanya karena ada satu atau dua elemen yang tampak serupa. Cara berpikir semacam ini berbahaya karena bisa menyesatkan orang dari pemahaman yang benar, sekaligus menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat. Konflik di kawasan Timur Tengah memang bukan hal baru, ia sudah berlangsung berkali-kali dalam sejarah modern tanpa serta-merta menjadi penanda kiamat besar.
Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi sudah lama mengingatkan tentang bahaya ‘ta’wil politis’, yaitu penafsiran spekulatif terhadap teks-teks eskatologis yang dikaitkan dengan peristiwa politik masa kini. Alih-alih menambah wawasan keagamaan, praktik semacam ini justru sering berujung pada kecemasan kolektif dan penyebaran informasi yang belum tentu benar. Itulah kenapa tabayyun atau memverifikasi kebenaran sebuah informasi menjadi sangat penting sebelum ikut menyebarkannya.
Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Kabar Ini?
Seorang netizen di platform X merangkumnya dengan sangat baik: ‘Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperbaiki diri dan tetap tenang.’ Kiamat memang akan datang, dan Dajjal memang akan muncul, itu adalah keyakinan yang sudah pasti dalam Islam. Tapi proses itu bersifat bertahap dan memiliki urutan yang sangat jelas, bukan sesuatu yang bisa langsung kita simpulkan hanya dari satu kesamaan angka di sebuah berita konflik militer.
Islam juga mengajarkan doa perlindungan khusus dari fitnah Dajjal yang bisa kita amalkan setiap hari: Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri lebih banyak mengarahkan umatnya untuk memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh, bukan untuk larut dalam spekulasi tentang kapan hari akhir tiba. Ini adalah arahan yang jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan kita.
Baca Juga: Adzan Magrib Berkumandang, Sholat Dulu Atau Buka Dulu?
Jadi untuk menjawab pertanyaan yang beredar di media sosial, tidak ada bukti yang sahih maupun pernyataan ulama resmi yang mengonfirmasi bahwa peristiwa perang Iran-Israel saat ini merupakan tanda langsung kemunculan Dajjal. Yang ada adalah kesamaan angka antara jumlah pasukan cadangan Israel dengan jumlah pengikut Dajjal dalam hadis, dan itu pun menurut para ulama belum cukup dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan besar. Kita perlu bijak memilah mana yang merupakan renungan keimanan yang sehat, dan mana yang sekadar cocoklogi berbalut agama.
Sobat Wakaf, mari jadikan momen ini sebagai pengingat untuk terus belajar ilmu agama dari sumber yang terpercaya, agar kita tidak mudah terbawa arus informasi yang belum tentu benar. Pahami tanda-tanda akhir zaman dengan benar, perkuat iman, perbanyak amal, dan serahkan urusan waktu kepada Allah yang Maha Mengetahui. Itulah respons terbaik yang bisa kita berikan terhadap situasi apapun yang terjadi di dunia hari ini.
Jangan lupa pula untuk menunaikan sedekah terbaik melalui Wakaf Salman. Sebab, sedekah bisa mensucikan harta terlebih di kondisi akhir zaman seperti ini. Yuk, klik tombol di bawah!

