Suku Badui dan Eksistensi Masyarakat Adat Indonesia

Suku Badui dan Eksistensi Masyarakat Adat Indonesia

By Markom Wakaf Salman

06/04/2022

Sahabat, pernah mendengar Suku Badui? Salah satu suku pedalaman di Indonesia yang masih belum tersentuh teknologi dan merupakan masyarakat adat yang menjaga ketat nilai-nilai budayanya.

Lokasi Suku Badui sendiri berada di pelosok wilayah Provinsi Banten. Suku Badui bermukim di kaki pegunungan bernama Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Tempat tinggal mereka berjarak sekitar 40 km dari Rangkasbitung, pusat kota di Lebak, Banten. Seringkali, masyarakat Suku Badui menyebut dirinya sebagai 'órang Kanekes'.

Suku Badui adalah sub-etnis Suku Sunda yang terbagi menjadi suku Badui Luar dan Badui Dalam. Terkhusus suku Badui Dalam, mereka sama sekali tidak menggunakan sandal, transportasi, atapun teknologi lainnya dan masih memeluk Sunda Wiwitan. Sebuah keyakinan yang didasarkan pada penghormatan atau pemujaan kepada arwah nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa, yakni Batara Tunggal.

Bahkan, mereka pun tidak mengenal kebiasaan hidup bersih yang biasa kita ketahui. Seperti tidak terbiasa menggunakan MCK, ataupun membersihkan diri di fasilitas air mengalir.

Apabila Sahabat berkunjung ke wilayah Suku Badui, hamparan sawah dan pepohonan akan memenuhi pandangan Sahabat. Pemandangan di sana memang menyuguhkan keasrian yang telah terjaga berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun, keindahan tersebut mesti Sahabat tebus dengan berjalan kaki karena tidak ada akses memadai untuk kendaraan masuk ke wilayah pemukiman Suku Badui. 

Rumah-rumah yang ditinggali masyarakat Suku Badui berbentuk rumah panggung. Tidak ada penggunaan semen bahkan beton yang biasa kita jumpai di perkotaan. Semua hal yang akan Sahabat temukan, pasti menjemput ingatan tentang pedesaan yang sesungguhnya ataupun tempo doeloe sebelum kehidupan modern yang sibuk datang.

Masyarakat Badui juga sibuk bermasyarakat dan menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ada yang menggarap kebun bersama, sawah, hingga berjualan madu ke wilayah luar Badui. Apabila dihitung seluruhnya, total masyarakat Suku Badui mencapai 26.000 jiwa.

Fakta lain dari suku yang cukup dikenal nyentrik dengan pakaian hitam-putihnya yang khas, yaitu persoalan agama yang perlahan masuk ke Suku Badui. Kristen, Budha, hingga Islam. Mereka yang kemudian memeluk agama tertentu dianggap keluar dari adat dan menjadi bagian dari Suku Badui Luar.

Kami, Wakaf Salman ITB bersama Baitul Wakaf Indonesia punya harapan untuk bisa merangkul para Mualaf Suku Badui, menyelamatkan akidahnya, dan membawa terangnya cahaya Islam.

‘’Yang saya rasakan setelah masuk Islam (salah satunya) banyak saudara se-akidah, sehingga ketika mendapatkan kesulitan dibidang apa saja mereka siap membantu,’’ ungkap Muhammad Kasja, warga Baduy yang memutuskan memeluk agama Islam pada 1986 -dilansir dari laman MUI.

Bersambung...

Literasi
Artikel

Bagikan :

Literasi
Artikel
Bagikan

Berita Lainnya

Contact Us

Contact Us