Beranda

Program

Kabar Wakaf

Akun

Wakaf Salman

Mana yang Benar, Ramadhan atau Ramadan?

Pernahkah Sobat Wakaf bertanya-tanya tentang penulisan yang benar antara Ramadhan atau Ramadan? Perbedaan penulisan ini sering membuat banyak orang bingung, terutama ketika bulan suci umat Islam ini tiba. Penulisan Ramadhan atau Ramadan keduanya sering digunakan dalam berbagai media, buku, dan komunikasi sehari-hari.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan mengulas secara lengkap perbedaan antara kedua penulisan tersebut dan mengapa keduanya bisa ada. Selain itu, kita juga akan membahas makna mendalam dari bulan suci ini, termasuk bagaimana tradisi wakaf bulan Ramadan menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan selama bulan penuh berkah ini.

Yuk, simak pembahasan di bawah!

Istilah Ramadhan atau Ramadan

Istilah Ramadhan atau Ramadan merujuk pada bulan ke-9 dalam kalender Hijriah yang merupakan bulan suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan ini ditandai dengan kewajiban berpuasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Secara etimologi, kata Ramadhan berasal dari bahasa Arab “رمضان” (ramaḍān) yang berakar dari kata “رمض” (ramaḍa) yang berarti “panas yang membakar” atau “kekeringan”. Nama ini diberikan karena konon bulan ini dahulu jatuh pada musim panas di Jazirah Arab.

Baca Juga: Ternyata Ini Arti Ramadan Mubarak!

Dalam pengucapan aslinya, ada huruf “ض” (dhad) yang merupakan huruf khas bahasa Arab. Huruf ini memiliki bunyi yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Latin pada umumnya, sehingga menimbulkan variasi dalam transliterasi ke huruf Latin.

Perbedaan penulisan ini sebenarnya hanya masalah transliterasi atau pengalihan huruf Arab ke huruf Latin, bukan perbedaan substansi atau makna.

Mengapa Ada 2 Penulisan Berbeda?

Perbedaan penulisan Ramadhan dan Ramadan terjadi karena sistem transliterasi yang berbeda dalam mengalihkan huruf Arab ke huruf Latin. Keduanya berusaha menangkap pengucapan huruf “ض” (dhad) dalam bahasa Arab.

Dalam sistem transliterasi yang lebih tua dan banyak digunakan di Indonesia, huruf “ض” ditransliterasikan menjadi “dh”, sehingga menjadi “Ramadhan”. Sistem ini berusaha menunjukkan bahwa huruf tersebut bukan sekadar “d” biasa.

Sementara itu, dalam sistem transliterasi internasional yang lebih baru, huruf “ض” cukup ditransliterasikan menjadi “d” saja, sehingga menjadi “Ramadan”. Sistem ini banyak digunakan di dunia internasional dan pada publikasi-publikasi resmi.

Kedua penulisan ini sama-sama valid dan mengacu pada bulan yang sama. Perbedaannya hanya pada konvensi penulisan, bukan pada substansi atau makna dari bulan tersebut.

Penulisan dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang diakui secara resmi adalah “Ramadan”. KBBI mengikuti sistem transliterasi yang lebih sederhana dan konsisten dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia.

KBBI mendefinisikan Ramadan sebagai “bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa”. Definisi ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bulan puasa bagi umat Islam.

Meskipun KBBI menggunakan “Ramadan”, penggunaan “Ramadhan” tetap banyak dijumpai dalam berbagai publikasi, termasuk media massa, buku-buku agama, dan komunikasi sehari-hari di Indonesia. Hal ini terjadi karena pengaruh kuat dari tradisi penulisan dan pengajaran agama Islam di Indonesia yang cenderung lebih dekat dengan transliterasi Arab.

Secara resmi, institusi pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Agama, juga lebih banyak menggunakan “Ramadan” sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku.

Penulisan di Negara-Negara Muslim

Perbedaan penulisan nama bulan puasa ini juga terlihat di berbagai negara Muslim. Setiap negara memiliki konvensi sendiri dalam mentransliterasikan kata Arab ke dalam bahasa nasional mereka.

Di Malaysia dan Brunei Darussalam, penulisan “Ramadan” lebih umum digunakan dalam dokumen resmi. Sementara di Pakistan dan India, “Ramzan” atau “Ramzaan” adalah bentuk yang lebih populer karena pengaruh bahasa Urdu dan Persia.

Baca Juga: Adakah Amalan Awal Ramadan Secara Khusus?

Negara-negara Arab sendiri tetap menggunakan penulisan aslinya dalam huruf Arab “رمضان” tanpa perlu transliterasi. Ketika berkomunikasi dalam bahasa Inggris, negara-negara Arab dan organisasi-organisasi Islam internasional seperti OKI (Organisasi Kerjasama Islam) cenderung menggunakan “Ramadan”.

Di Turki, mereka menulis dan mengucapkannya sebagai “Ramazan”, sedangkan di Iran dan sebagian Afghanistan, bentuk “Ramazan” atau “Ramazān” lebih umum karena pengaruh bahasa Persia.

Makna dan Esensi Bulan Suci

Terlepas dari perbedaan penulisan, makna dan esensi bulan suci ini tetaplah sama bagi seluruh umat Islam. Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al Quran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di bulan ini, ibadah puasa diwajibkan sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.

Ramadan juga menjadi momen untuk melatih kesabaran, empati terhadap sesama, dan pengendalian diri. Bulan ini mengajarkan umat Islam untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan mendorong untuk berbagi kepada yang membutuhkan.

Nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam bulan Ramadan meliputi pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), peningkatan ibadah, dan penguatan silaturahmi dengan sesama. Semua ini merupakan esensi dari bulan suci yang jauh lebih penting dari sekadar perbedaan penulisan namanya.

Ibadah dan Amalan di Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, umat Islam melakukan berbagai ibadah dan amalan khusus. Puasa merupakan ibadah wajib yang dilakukan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa.

Selain puasa, ibadah shalat tarawih juga menjadi ciri khas bulan Ramadan. Shalat tarawih dilakukan setelah shalat Isya dan biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid-masjid. Ibadah ini merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan.

Membaca dan mengkaji Al Quran (tadarus) juga menjadi amalan yang sangat diutamakan pada bulan Ramadan. Banyak umat Islam yang berusaha untuk mengkhatamkan Al Quran selama bulan suci ini.

Sedekah dan berbagi dengan sesama menjadi amalan yang sangat dianjurkan dan pahalanya dilipatgandakan di bulan Ramadan. Bentuk-bentuk sedekah ini bisa berupa pemberian makanan untuk berbuka puasa (iftar), pembagian sembako, atau bentuk bantuan lainnya kepada yang membutuhkan.

Tradisi Wakaf di Bulan Ramadan

Wakaf merupakan salah satu amalan yang memiliki nilai istimewa dalam Islam, khususnya di bulan Ramadan. Tradisi wakaf bulan Ramadan semakin populer karena pahalanya yang terus mengalir bahkan setelah pemberi wakaf meninggal dunia.

Di bulan Ramadan, banyak lembaga wakaf yang menyelenggarakan program-program khusus seperti wakaf Al Quran, wakaf sumur, wakaf masjid, wakaf pendidikan, dan lain sebagainya. Program-program ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Muslim yang ingin melipatgandakan amal di bulan yang penuh berkah.

Momentum Ramadan sering dimanfaatkan untuk menggalang wakaf tunai yang kemudian dikelola untuk berbagai program produktif. Hasil dari pengelolaan wakaf ini kemudian disalurkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, seperti beasiswa pendidikan, layanan kesehatan gratis, atau pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk berwakaf karena pada bulan ini umat Islam berada dalam kondisi spiritual yang tinggi dan lebih termotivasi untuk beramal. Nilai-nilai berbagi dan kepedulian yang diajarkan melalui puasa juga mendorong semangat berwakaf.

Baca Juga: 5 Jenis Sedekah Bulan Ramadan yang Bisa Kita Amalkan

Baik Ramadhan maupun Ramadan, keduanya merujuk pada bulan suci yang sama bagi umat Islam. Perbedaan penulisan hanyalah masalah transliterasi dari bahasa Arab ke huruf Latin, bukan perbedaan substansi atau makna.

Meskipun KBBI secara resmi menggunakan istilah “Ramadan”, penggunaan “Ramadhan” tetap umum di masyarakat Indonesia dan sama-sama valid. Yang terpenting adalah memahami dan menghayati esensi dari bulan suci ini sebagai bulan peningkatan ketakwaan, pembersihan jiwa, dan berbagi dengan sesama.

Sobat Wakaf, mari jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah dan amalan baik, termasuk berwakaf, yang pahalanya akan terus mengalir bahkan setelah bulan Ramadan berakhir. Karena sesungguhnya, yang terpenting bukanlah bagaimana kita menuliskannya, tetapi bagaimana kita menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Yuk, dapatkan berkah Ramadan dengan cara klik tombol di bawah!

    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman

      Wakaf Salman Merupakan Lembaga Pengelolaan Wakaf yang telah terdaftar pada Badan Wakaf Indonesia dengan No Nazhir 3.3.00170

      Wakaf SalmanWakaf SalmanWakaf Salman
    • Learn More

    • Temukan Kami

      • Wakaf Salman
      • Wakaf Salman
      • Wakaf Salman

      Alamat

      Komplek Area Masjid Salman ITB, Jl. Ganesa No.7, Lebak Siliwangi, Coblong, Bandung City, West Java 40132

    • Membuka Google Map..
    • Copyright © 2026 Wakaf Salman. All Rights Reserved.