Pertanyaan tentang puasa qadha hari apa sering muncul setelah Ramadan berakhir. Banyak orang ingin mengganti utang puasa, tetapi masih bingung, apakah ada hari tertentu yang lebih utama? Apakah harus dilakukan di hari tertentu, atau bebas kapan saja?
Agar Sobat Wakaf tidak keliru, mari kita bahas dan belajar secara lengkap berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama. Simak sampai habis, ya!
Daftar Isi
Apakah Puasa Qadha Harus di Hari Tertentu?
Jawaban singkatnya: tidak harus di hari tertentu.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa qadha bisa dilakukan di hari apa saja di luar Ramadan, selama hari tersebut bukan hari yang diharamkan untuk berpuasa.
Artinya, tidak ada kewajiban memilih hari tertentu. Fleksibilitas ini merupakan bentuk kemudahan dalam syariat Islam.
Baca Juga: Ini Bacaan Niat Puasa Qadha
Lalu, Puasa Qadha Hari Apa yang Paling Baik?
Meskipun tidak wajib, para ulama memberikan beberapa anjuran terkait waktu yang lebih baik untuk melaksanakan puasa qadha.
1. Segera Setelah Ramadan (Tidak Ditunda)
Waktu terbaik untuk puasa qadha adalah segera setelah Ramadan berakhir, jika tidak ada uzur.
Hal ini berdasarkan prinsip umum dalam Islam untuk menyegerakan kebaikan.
Dalam hadis, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku memiliki utang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 1950, Muslim no. 1146)
Hadis ini menunjukkan bahwa qadha boleh ditunda, tetapi tetap dalam rentang sebelum Ramadan berikutnya. Namun, menyegerakannya tetap lebih utama.
2. Hari Senin dan Kamis (Sekaligus Sunnah)
Jika ingin lebih optimal, puasa qadha bisa dilakukan pada hari Senin dan Kamis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan-amalan diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis.”
(HR. Tirmidzi no. 747, dinyatakan hasan)
Sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah, sehingga selain mengganti kewajiban, juga mendapatkan keutamaan hari tersebut.
3. Hari-Hari Putih (Ayyamul Bidh)
Hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 bulan hijriyah) juga bisa menjadi pilihan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah ini, selama niat utamanya tetap qadha.
4. Bulan Sya’ban (Menjelang Ramadan)
Bulan Sya’ban sering menjadi waktu favorit untuk menyelesaikan utang puasa.
Seperti disebutkan dalam hadis Aisyah sebelumnya, beliau mengqadha puasa di bulan ini karena kesibukannya.
Hal ini menunjukkan bahwa:
- Qadha boleh dilakukan menjelang Ramadan
- Namun tetap lebih baik tidak menunda tanpa alasan
Baca Juga: Memang Apa Saja Sih Manfaat Puasa Syawal?
Hari yang Tidak Boleh untuk Puasa Qadha
Selain mengetahui puasa qadha hari apa yang baik, penting juga mengetahui hari yang dilarang untuk berpuasa.
Hari-hari tersebut adalah:
- 1 Syawal (Idul Fitri)
- 10 Dzulhijjah (Idul Adha)
- 11, 12, 13 Dzulhijjah (hari Tasyrik)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim no. 1141)
Puasa qadha tidak sah jika dilakukan pada hari-hari ini.
Apakah Harus Berurutan?
Banyak yang mengira puasa qadha harus dilakukan berturut-turut. Padahal mayoritas ulama berpendapat:
Tidak wajib berurutan
Boleh dilakukan:
- Sekaligus
- Dicicil
- Disesuaikan dengan kondisi
Yang penting adalah jumlah hari yang diganti sesuai dengan yang ditinggalkan.
Mana yang Lebih Utama: Qadha atau Sunnah?
Jika masih memiliki utang puasa, maka:
Puasa qadha harus didahulukan dibanding puasa sunnah
Ini karena qadha adalah kewajiban, sedangkan puasa sunnah bersifat tambahan.
Namun dalam beberapa kondisi, sebagian ulama membolehkan penggabungan niat, selama tidak menghilangkan kewajiban utama.
Hikmah Fleksibilitas Waktu Qadha
Islam memberikan kelonggaran dalam menentukan puasa qadha hari apa, karena:
- Tidak semua orang memiliki kondisi yang sama
- Ada yang sibuk, sakit, atau memiliki keterbatasan
- Memberi kemudahan agar ibadah tetap bisa dilakukan
Hal ini sesuai dengan prinsip Islam:“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Setelah mengetahui penjelasan mengenai puasa qadha hari apa yang bisa kita lakukan, mari kita lakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Al-Qur’an dan hadis. Selanjutnya, yuk lengkapi ibadah puasamu dengan amalan lain seperti sedekah. Klik tombol di bawah ya!

