Sholawat Nabi ternyata bukan sekadar amalan yang biasa dibaca umat Islam dalam berbagai kesempatan. Perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ secara langsung disebutkan dalam Al Qur’an. Allah bahkan menyebut bahwa Dia dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, kemudian orang-orang beriman diperintahkan untuk melakukan hal yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa sholawat Nabi memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Dasarnya bukan hanya berasal dari tradisi umat Islam, tetapi juga terdapat dalam Al Qur’an dan dijelaskan lebih lanjut melalui berbagai hadis sahih.
Lalu, apa sebenarnya perintah sholawat Nabi dalam Al Qur’an? Mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak sholawat? Dan seperti apa sholawat yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ?
Daftar Isi
Perintah Sholawat Nabi dalam Al Qur’an
Dasar paling jelas mengenai sholawat Nabi terdapat dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Ayat ini menjadi salah satu landasan utama mengenai perintah sholawat Nabi. Dalam ayat tersebut, Allah menyebut tiga pihak yang berkaitan dengan sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Allah, para malaikat, dan orang-orang beriman.
Menariknya, perintah tersebut tidak hanya berbunyi agar umat Islam mengingat Nabi, tetapi secara khusus menggunakan perintah untuk bersholawat dan mengucapkan salam kepada beliau.
Artinya, sholawat Nabi bukan sekadar ekspresi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Ia merupakan bagian dari ajaran yang secara eksplisit diperintahkan dalam Al Qur’an.
Baca Juga: Begini Sejarah Maulid Nabi Hingga Menjadi Tradisi
Apa Arti Sholawat dari Allah?
Mungkin muncul pertanyaan: bagaimana mungkin Allah bersholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ?
Para ulama menjelaskan bahwa makna sholawat berbeda sesuai dengan siapa yang melakukannya.
Sholawat Allah kepada Nabi bermakna pujian dan sanjungan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ di hadapan para malaikat. Sementara sholawat para malaikat berkaitan dengan doa dan permohonan mereka untuk Nabi.
Adapun sholawat dari umat Islam merupakan bentuk doa agar Allah memberikan rahmat, kemuliaan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Jadi, ketika seorang Muslim mengucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”, ia bukan sedang memberikan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ. Ia sedang memohon kepada Allah agar memberikan kemuliaan dan keberkahan kepada Rasulullah ﷺ.
Apa Keutamaan Sholawat Nabi?
Selain diperintahkan dalam Al Qur’an, sholawat Nabi juga memiliki banyak keutamaan yang dijelaskan dalam hadis sahih.
Salah satunya terdapat dalam Sahih Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang bersholawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan sholawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.
Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Barang siapa bersholawat kepadaku satu kali, Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.”
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan sholawat Nabi. Satu kali sholawat yang dilakukan seorang Muslim dibalas dengan sepuluh kali sholawat dari Allah.
Riwayat lain dari Sunan an-Nasa’i juga menjelaskan bahwa satu kali sholawat kepada Nabi menjadi sebab sepuluh kebaikan, dihapusnya sepuluh kesalahan, dan diangkatnya sepuluh derajat.
Karena itu, memperbanyak sholawat Nabi merupakan salah satu amalan sederhana yang memiliki keutamaan besar.
Rasulullah Mengajarkan Bacaan Sholawat
Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak hanya memerintahkan umatnya untuk bersholawat. Beliau juga mengajarkan bagaimana cara bersholawat.
Dalam Sahih al-Bukhari, Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai cara mengucapkan sholawat kepada beliau.
Rasulullah kemudian mengajarkan bacaan yang dikenal luas sebagai Sholawat Ibrahimiyah.
Di dalamnya terdapat doa:
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala ali Ibrahim…”
Bacaan tersebut kemudian menjadi bagian dari bacaan dalam tasyahhud yang diajarkan kepada umat Islam.
Hal ini penting karena menunjukkan bahwa sholawat Nabi memiliki tuntunan langsung dari Rasulullah ﷺ.
Jadi, ketika ingin mengamalkan sholawat, umat Islam tidak perlu mencari-cari bentuk bacaan yang tidak jelas sumbernya. Salah satu bacaan yang paling kuat landasannya adalah sholawat yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Kapan Sebaiknya Membaca Sholawat Nabi?
Sholawat Nabi dapat diamalkan kapan saja. Tidak harus menunggu waktu tertentu.
Namun, terdapat beberapa keadaan yang secara khusus memiliki tuntunan dari hadis.
Setelah Mendengar Azan
Rasulullah ﷺ mengajarkan umat Islam untuk menjawab azan, kemudian bersholawat kepada beliau setelah muazin selesai mengumandangkan azan.
Dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang bersholawat kepada beliau satu kali setelah mendengar azan, Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali. Setelah itu, umat Islam juga dianjurkan memohon kepada Allah agar memberikan al-Wasilah kepada Rasulullah ﷺ.
Jadi, salah satu kesempatan sederhana untuk membaca sholawat Nabi sebenarnya datang setiap kali kita mendengar azan.
Saat Tasyahhud
Sholawat kepada Nabi juga menjadi bagian dari tasyahhud dalam salat.
Ketika membaca Sholawat Ibrahimiyah dalam tasyahhud, seorang Muslim mengikuti tuntunan yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya.
Karena itu, sebenarnya seorang Muslim yang menjalankan salat sudah memiliki kesempatan rutin untuk bersholawat kepada Nabi.
Ketika Nama Nabi Muhammad Disebut
Membaca sholawat ketika nama Nabi Muhammad ﷺ disebut juga telah menjadi praktik yang sangat umum di kalangan umat Islam.
Hal ini sejalan dengan anjuran untuk selalu mengingat dan memuliakan Rasulullah ﷺ.
Namun, yang paling penting bukan sekadar mengucapkan sholawat secara otomatis. Sholawat seharusnya juga menjadi pengingat bahwa ada seorang Rasul yang membawa ajaran Islam dan harus kita ikuti sunnahnya.
Sholawat Nabi Bukan Sekadar Ucapan
Ada hal penting yang sering terlupakan.
Sholawat Nabi memang dapat dibaca sebagai zikir dan doa. Namun, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya tidak berhenti pada ucapan.
Ketika seseorang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, kecintaan tersebut idealnya juga terlihat dari usaha untuk mengenal kehidupan beliau, mempelajari ajarannya, dan mengikuti sunnahnya.
Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 31:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ memiliki konsekuensi berupa usaha untuk mengikuti beliau.
Karena itu, sholawat Nabi seharusnya tidak diposisikan sebagai pengganti amal lainnya. Ia justru bisa menjadi pintu untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ dan menerapkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah Semua Bacaan Sholawat Memiliki Keutamaan yang Sama?
Di tengah masyarakat terdapat banyak bentuk sholawat yang berkembang. Sebagian memiliki sejarah dan tradisi yang panjang, sementara sebagian lainnya merupakan susunan doa yang dibuat oleh ulama atau masyarakat Muslim pada masa tertentu.
Dalam hal ini, penting untuk membedakan antara bacaan yang memang diajarkan secara langsung oleh Rasulullah ﷺ dan bacaan yang disusun oleh generasi setelah beliau.
Untuk persoalan keutamaan tertentu, sebaiknya tidak sembarangan mengatakan bahwa suatu bacaan sholawat memiliki manfaat atau pahala khusus apabila tidak memiliki dasar yang jelas.
Misalnya, apabila ada klaim bahwa membaca suatu sholawat dengan jumlah tertentu pasti mendatangkan kekayaan, menyembuhkan penyakit tertentu, atau menjamin terkabulnya sebuah keinginan, klaim tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu sumbernya.
Jangan sampai sebuah amalan yang sebenarnya baik kemudian disertai klaim keutamaan yang tidak memiliki dasar kuat.
Bagaimana dengan Sholawat dan Maulid Nabi?
Pembahasan mengenai sholawat Nabi juga sering dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi.
Keduanya sebenarnya perlu dibedakan.
Perintah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ memiliki dasar yang sangat jelas dalam Al Qur’an, yaitu Surah Al-Ahzab ayat 56.
Sementara bentuk peringatan Maulid Nabi dalam sejarah Islam berkembang sebagai tradisi keagamaan pada masa setelah generasi awal Islam.
Dengan demikian, keberadaan tradisi Maulid tidak mengubah fakta bahwa perintah bersholawat memang telah terdapat dalam Al Qur’an sejak masa Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ sendiri pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin. Beliau menjawab bahwa Senin adalah hari ketika beliau dilahirkan dan ketika wahyu diturunkan kepadanya. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa hari kelahiran Nabi memang pernah dikaitkan langsung oleh beliau dengan sebuah bentuk ibadah, yaitu puasa.
Namun, pembahasan mengenai bentuk peringatan Maulid memiliki ranah fikih dan sejarah tersendiri. Yang jelas, perintah untuk bersholawat kepada Rasulullah ﷺ tidak bergantung pada adanya peringatan Maulid, karena dasar perintah tersebut sudah ada dalam Al Qur’an.
Sholawat Bisa Menjadi Pengingat untuk Berbuat Baik
Ada satu hal menarik yang bisa kita ambil dari amalan sholawat.
Ketika seseorang terbiasa bersholawat kepada Rasulullah ﷺ, seharusnya ia juga semakin sering mengingat akhlak dan perjuangan beliau.
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan orang miskin, anak yatim, tetangga, keluarga, dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, kecintaan kepada Nabi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial.
Membantu orang yang kesulitan, bersedekah, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, membangun fasilitas pendidikan, membantu pembangunan masjid, hingga mewakafkan sebagian harta untuk kemaslahatan masyarakat merupakan bentuk amal yang sejalan dengan semangat ajaran Islam.
Sholawat Nabi kemudian tidak berhenti sebagai ucapan di lisan, tetapi menjadi pengingat agar kita juga berusaha mengikuti akhlak Rasulullah ﷺ.
Baca Juga: Adakah Amalan Maulid Nabi Secara Khusus?
Perintah sholawat Nabi ternyata memang disebutkan secara langsung dalam Al Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Ahzab ayat 56.
Allah menyebut bahwa Dia dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, kemudian orang-orang beriman diperintahkan untuk bersholawat dan mengucapkan salam kepada beliau.
Keutamaan sholawat juga banyak dijelaskan dalam hadis sahih. Salah satunya, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa siapa saja yang bersholawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan sholawat kepadanya sepuluh kali.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bacaan sholawat secara langsung kepada para sahabat, salah satunya melalui Sholawat Ibrahimiyah yang kita kenal hingga sekarang.
Karena itu, sholawat Nabi bukan hanya tradisi atau kebiasaan masyarakat Muslim. Ia memiliki landasan yang jelas dalam Al Qur’an dan hadis.
Namun, sholawat sebaiknya tidak berhenti sebagai ucapan. Ia dapat menjadi pengingat untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ, mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, dan menerapkan nilai-nilai yang beliau ajarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, sholawat bukan hanya menjadi amalan lisan, tetapi juga menjadi jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan mendorong kita untuk menghadirkan lebih banyak kebaikan bagi sesama.
Yuk, klik tombol di bawah!

