Terkisah pada suatu malam, Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada Abu Muaidah, "Aku ingin mengunjungi Baqi (kuburan para sahabat), dan memohon ampunan Allah untuk mereka." Lalu ketika tiba di sana, beliau bilang, "Sungguh wahai Abu Muaidah, fitnah sudah datang."
Tahukah #SahabatPenderma? Maksud dari ucapan Rasulullah itu adalah pertanda bahwa kematian semakin dekat kepada dirinya.
Bahwasanya makhluk Allah yang paling mulia di bumi itu telah diberi pilihan. "Wahai Abu Muaidah, sungguh aku telah diberi pilihan. Aku menguasai seluruh bumi dan perbendaharaannya. Lalu (atau) aku masuk surga dengan aku menemui Tuhan-ku dan masuk surga," maka Nabi ﷺ memilih menemui Tuhan-nya.
Selepas dari makam, beliau tiba di rumah. Saat itu juga Nabi ﷺ mulai merasakan sakit kepala luar biasa. Aisyah r.a saat itu pertama kalinya mendengar beliau sakit kepala. Terlebih, sakit kepala yang dirasakan kalangan nabi dua kali sakitnya dua orang laki-laki biasa. Begitu pun demam seumpama 2 kali lipat 40 derajat demam orang biasa.
Saat itu permintaan beliau yakni mengunjungi istri-istrinya. Namun, saat sampai di rumah Maimunah r.a, beliau tak sanggup melanjutkan perjalanan. Semua istri Nabi ﷺ pun berkumpul. Mereka mengizinkan Rasul dirawat di rumah Aisyah. "Sungguh, kaki Nabi ﷺ terseret di tanah karena tidak mampu mengangkatnya saat dibawa menuju rumah Aisyah r.a," kata Fadhl bin Abbas bin Abdul Muthalib yang membopong Nabi ﷺ ke rumah Aisyah r.a.
Meski dalam sakit, Nabi ﷺ tetap berusaha mengimami shalat. Maka selepas shalat Ashar di hari Jumat, Nabi ﷺ naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbah (kematian). Beliau memuji Allah Ta'ala, lalu bershalawat. Kemudian beliau bersabda, "Wahai manusia, sungguh aku memuji Allah di hadapan kalian. Ketahuilah, bahwa waktuku untukku bersama kalian tinggal beberapa saat lagi." Abu Bakar dan para Sahabat berderai air mata. Segala urusan antarmanusia, Nabi ﷺ selesaikan saat itu juga.
Setelah hari itu, Nabi ﷺ meninggalkan pesan-pesan untuk kaum muslim. Seraya mendatangi Abu Bakar dan memastikan ia adalah sahabat terbaiknya. Hingga akhirnya datang 3 hari yang membuat langit & bumi bersedih, ketika Nabi Saw. tidak bisa banyak bergerak dan mengimami shalat.
Atas izin Allah, Nabi Saw. berbicara dengan Aisyah r.a. Beliau meminta Aisyah r.a menyampaikan kepada Abu Bakar untuk mengimami shalat.
Tepat di 12 Rabi'ul Awwal waktu subuh, qadarullah kondisi Nabi Saw. membaik. Beliau berdiri, berwudhu, dan keluar mengimami orang. Beliau mendapati umatnya sedang berjamaah shalat subuh dengan khusyuk, dipimpin Abu Bakar.
Beliau menghampiri mereka dan menjadi sebuah kegembiraan bagi jamaah, melihat utusan Allah kembali sehat. Dalam kesempatan itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
"Ingatlah, jangan kalian memujiku melampaui batas setelah aku meninggal nanti... Dan jangan pernah jadikan kuburanku sebagai hari raya. Sesungguhnya Allah melaknat siapapun yang menjadikan kuburan nabi mereka hari raya."
Beliau juga meminta kaum muslimin untuk menjaga shalatnya.
Namun, kala para Sahabat di rumah Nabi ﷺ pergi dengan hati yang lebih tenang, sakitnya kembali datang. Seluruh tulangnya melemah sehingga beliau bersandar kepada Aisyah r.a. Ia meminta seember air. Sambil duduk dibantu Aisyah r.a, Nabi ﷺ mengucapkan inna lil mauti lisakarat. Lalu beliau mengusapkan air itu ke wajahnya.
Beliau ﷺ mengatakan "Dan aku berharap bertemu dengan Tuhan-ku." Maka Aisyah r.a mengatakan, "Aku tahu di sini Nabi Saw. diberi pilihan terakhir. Sampai aku melihat leher Nabi Saw. terturun lemah dan akhirnya tersandar (jatuh) di samping punggung kananku." Kepanikan melanda Aisyah r.a yang tidak tahu harus berbuat apa. Ia menggerakkan suaminya, tapi sudah tidak bergerak.
Tahukah juga #SahabatPenderma? Bahwa di ujung nafasnya, ia mengingat kita umatnya. Mengkhawatirkan sakitnya sakaratul maut bagi umatnya. "Ummatii.. ummatii.. ummatii" hingga akhirnya Izrail mencabut nyawa Rasulullah ﷺ Semua orang terguncang.
Umar yang mendengar kabar ini, kemudian menghunuskan pedang kepada siapa saja yang berkata Muhammad ﷺ telah meninggal, seolah tidak percaya. Sementara itu Abu Bakar, sahabat Nabi ﷺ yang masuk dan melihat Nabi Saw tergeletak dengan mata tertutup. Beliau mengecup Nabi Saw. di antara dua kening. Lalu mengatakan, "Engkau hidup mulia dan meninggal dalam keadaan mulia dan bahagia. Adapun kematian yang telah Allah catatkan , sungguh telah engkau rasakan wahai utusan Allah. Maka ketahuilah, engkau tidak akan merasakan kematian lagi setelah ini." Abu Bakar kemudian menutup wajah Nabi ﷺ dengan kain untuk memberi isyarat bahwa Nabi Muhammad, Rasulullah ﷺ telah meninggal dunia.

