Kenapa Kubah Masjid Berbentuk Lingkaran?

Kenapa Kubah Masjid Berbentuk Lingkaran?

By Adi Kartiwa

15/02/2021

Pada dasarnya, kubah bukan berasal dari arsitektur Islam, karena memang Islam tidak membawa secara langsung tradisi budaya fisik. Islam tidak mengajarkan secara konkret tata bentuk arsitektur. Islam memberi kesempatan kepada umatnya untuk menentukan pilihan-pilihan fisiknya pada akal budi. Secara sejarah, kubah belum dikenal pada masa Rasulullah SAW, sebagaimana halnya dengan menara dan mihrab. Seperti dikatakan oleh arsitektur terkenal, Prof. K Cresswell, desain awal Masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah.

Dalam rekonstruksi arsitekturnya, beliau menyebut betapa sederhananya masjid tersebut. Arsitektur awalnya berbentuk segi empat dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya. Di sepanjang bagian dalam dinding, dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka yang berada di tengahnya. Secara umum, kubah itu berbentuk seperti separuh bola atau kerucut yang permukaannya melengkung keluar. Berdasarkan bentuknya, dalam dunia arsitektur, dikenal ada 'kubah piring' karena puncak yang rendah dan dasar yang besar. Selain itu, ada pula 'kubah bawang' karena hampir menyerupai bentuk bawang. Kubah biasanya diletakkan pada tempat tertinggi di atas bangunan dan berfungsi sebagai atap.

Seiring berkembangnya teknologi arsitektur, kubah pun muncul sebagai penutup bangunan masjid. Kini, kubah seakan menjadi "tanda" dari sebuah masjid. Kubah masjid sangat mungkin mempunyai makna yang lebih dalam, setidaknya bahwa keberadaan kubah dalam arsitektur Islam tidak memiliki dua interpretasi simbolik. Lebih dari itu, kubah juga memiliki fungsi sebagai penanda arah kiblat dari bagian luar dan menerangi bagian interior masjid. Dari masa ke masa, bentuk kubah pada masjid juga terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Tidaklah mengherankan bila bentuk kubah masjid terbilang beragam karena sesuai dengan tempat masyarakat Muslim tinggal. Di antara masjid berkubah yang terkenal, antara lain Masjid Biru di Istanbul, Turki; Taj Mahal di Agra, India; dan Kubah Batu di Yerusalem. Di Indonesia sendiri, atap kubah masjid baru dikenal pada akhir abad ke-19. Tak hanya sekadar berkubah, bahkan Masjid Dian Al-Mahri kubahnya berlapis emas.

Kita donasikan sebagian harta kita untuk berwakaf di Wakaf Salman, agar pembangunan dan pemberdayaan masjid-masjid di Indonesia bisa terealisasikan. Jika masjid terlihat indah dan nyaman, pastinya shalat pun akan semakin khusyuk kepada Allah SWT.

Artikel

Bagikan :

Artikel
Bagikan

Berita Lainnya

Contact Us

Contact Us