Zaman bocah yang belum akrab sama smartphone, dari pagi sampai malam tuh kaya nggak ada beban gitu. Pokoknya nggak pernah kehabisan akal buat ketawa dan seru-seruan bareng, kalaupun nangis cuma gegara ditinggal sama nggak dikasih sontek PR matematika. Iya nggak?
Pagi sarapan bala-bala di warung si emak, berangkat sekolah jalan ramai-ramai, belajar, pulang sekolah ngerjain PR, sekolah agama, lanjut main sampai adzan magrib baru udahan. Sudah mandi, sudah cantik dan ganteng lalu bersalawat bersama menuju masjid terdekat dan mengaji.
Tapi sepertinya suasana kaya gini tuh, sudah jarang ditemukan. Bukan cuma di kota, bahkan di desa pun sudah berubah. Semua sibuk dan asik dengan smartphonenya masing-masing. Aduh gimana ya? tapi pengin banget mengenang masa-masa itu. Eits tenang, tetap ada jalan disetiap kebuntuan, ya walaupun harus putar arah tak apalah.
Yuk kita absen kembali nama-nama permainan saat itu.
Pertama, sondah atau kata orang sunda mah engklek. Permainan ini cukup populer di kalangan para ciwi-ciwi (baca: perempuan) desa. Mana nih suara anak 90-an? Masih ingat nggak cara main sama bikin pola engkleknya? Pasti masih dong yak arena ini permainan yang hits dan seru abis. Kalau kamu kangen, bisa main di rumah bareng adik, teman, atau doi pun nggak apa-apa biar seru dan mengobati rasa rindu pada masa lalu di desa.
Kedua, petak umpet. Siapa yang kalau jaga terus malah nangis, cung? Tapi permainan ini kadang bikin kesel dan emosi yang jaga. Karena ada teman-teman yang selalu ngumpet di rumah dan nggak balik lagi sampai permainan beres. Kesel kan, hayo siapa yang begitu? jangan diulangi ya.
Ketiga, Kelereng. Pasti teman kamu ada yang jago banget main kelereng. Bahkan toples biscuit aja penuh sama kelereng hasil main. Nah siapa yang pernah jadi juragan kelereng, bukannya main malah jualan hehehe. Sebuah didikan bisnis yang bagus diterapkan sejak dini, semoga saat ini sudah jadi pengusaha beneran ya dengan omset sekian rupiah dan dermawan selalu membantu orang lain yang sedang kesulitan.
Empat, main karet atau lompat tali. Ini paling seru sih karena bisa dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Sebelum main kumpulin dulu karet gelang lalu disimpul hingga panjang dan bisa dipakai untuk main. Pas main, paling seru kalau sudah sampai merdeka atau karet bentang tinggi ini jadi misi yang susah karena harus punya keahlian seperti jumpalit (jungkir balik). Kamu termasuk yang punya keahlian ini nggak atau tim nunggu minta tolong teman yang lolos aja? Terima kasih ya, kamu yang sudah menolong aku. Semoga kebaikan kamu tetap abadi hingga saat ini. Karena kamu, banyak orang yang tertolong dan bahagia.
Kira-kira apalagi ya, permainan di desa yang bikin baper dan kangen pengin balik lagi jadi anak kecil? Tapi tentunya, permainan tradisional ala anak desa ini masih bisa lho dilestarikan. Memang butuh proses dan bersaing dengan teknologi yang modern saat ini. Karena anak zaman now sudah nyaman sama smartphonenya.
Tapi bagaimana pun, suasana dan kenangan masa kecil di desa jadi pengalaman yang luar biasa. Saat sudah dewasa, waktunya berkontribusi membawa perubahan yang lebih baik untuk kampung halaman. Jangan khawatir, kamu tidak sendiri, bersama Wakaf Salman ITB kita sama-sama dorong perkembangan di desa melalui program Pembangunan 1.000 Desa.



