Benarkah ada hadis tentang bulan Safar yang membahas soal kesialan? Kepercayaan ini sudah lama beredar di tengah masyarakat, bahkan sejak zaman sebelum Islam datang.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, hadis tentang bulan Safar justru menegaskan bahwa tidak ada satu bulan pun yang membawa nasib buruk dengan sendirinya. Semua kejadian baik dan buruk sepenuhnya berada dalam kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, bukan karena pergantian bulan.
Sayangnya, mitos seputar Safar masih dipercaya sebagian orang hingga kini. Ada yang menghindari pernikahan, enggan bepergian jauh, bahkan menunda pekerjaan penting hanya karena merasa bulan ini membawa kesialan. Oleh karena itu, mari kita pahami duduk perkara yang sebenarnya berdasarkan tuntunan syariat, bukan sekadar tradisi turun-temurun.
Yuk, simak pembahasannya di bawah ini!
Daftar Isi
Mengenal Bulan Safar dalam Kalender Hijriah
Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah, tepat setelah Muharram. Secara bahasa, kata “Safar” berasal dari kata yang berarti kosong atau hampa. Penamaan ini erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu.
Baca Juga: 5 Larangan Bulan Safar Menurut Islam
Asal-usul Penamaan Bulan Safar
Menurut sebagian riwayat, nama Safar diambil dari kebiasaan orang Arab yang meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong pada bulan ini. Mereka pergi berperang atau melakukan perjalanan jauh untuk berdagang.
Ada pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa nama ini berkaitan dengan kondisi paceklik yang kerap terjadi di bulan tersebut. Apa pun asal-usulnya, penamaan ini murni bersifat historis dan tidak ada hubungannya dengan nasib baik atau buruk.
Pandangan Masyarakat Jahiliyah tentang Safar
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki kepercayaan bahwa Safar adalah bulan penuh malapetaka. Mereka meyakini ada semacam ular atau penyakit dalam perut yang menular dan membawa kesialan pada bulan ini.
Kepercayaan semacam ini dikenal dengan istilah tathayyur atau menganggap sial pada sesuatu. Islam datang untuk meluruskan pandangan keliru ini dan mengajarkan bahwa segala ketentuan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala semata.
Hadis Tentang Bulan Safar yang Perlu Sobat Wakaf Ketahui
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara tegas membantah anggapan bahwa Safar membawa kesialan. Beliau menyampaikan hal ini melalui beberapa sabdanya yang diriwayatkan oleh para sahabat. Pemahaman yang benar terhadap hadis-hadis ini penting agar Sobat Wakaf tidak terjebak dalam keyakinan yang tidak berdasar.
Hadis Rasulullah yang Membantah Kesialan Safar
Dalam sebuah riwayat yang disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada burung yang membawa pertanda buruk, dan tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar. Sabda ini menjadi dasar utama yang membantah seluruh mitos jahiliyah seputar bulan kedua Hijriah tersebut.
Para ulama sepakat bahwa hadis ini berlaku umum, tidak hanya untuk Safar, tetapi juga untuk segala bentuk kepercayaan sial yang dikaitkan dengan waktu, tempat, atau benda tertentu. Dengan kata lain, Islam mengajarkan umatnya untuk berserah diri kepada Allah dan menjauhi prasangka buruk tanpa dasar.
Penjelasan Ulama Mengenai Hadis Tersebut
Para ulama hadis menjelaskan bahwa larangan meyakini kesialan ini termasuk dalam kategori akidah yang harus dijaga kemurniannya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menguraikan bahwa keyakinan tathayyur dapat merusak tauhid seseorang jika dibiarkan.
Sebab, meyakini suatu waktu membawa sial sama saja dengan meyakini ada kekuatan lain selain Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan takdir. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk selalu bertawakal dan tidak membiarkan pikiran dikuasai oleh ketakutan yang tidak berlandaskan dalil.
Menyikapi Bulan Safar Sesuai Tuntunan Syariat
Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan secara khusus untuk bulan Safar dalam hadis-hadis shahih. Namun, Sobat Wakaf tetap dianjurkan memperbanyak ibadah harian seperti biasa, misalnya salat sunnah, sedekah, dan membaca Al Quran.
Momentum ini juga bisa dimanfaatkan untuk menguatkan keyakinan bahwa segala urusan berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Menyalurkan sedekah atau wakaf pun tetap dianjurkan kapan saja tanpa perlu menunggu bulan tertentu dianggap “aman”.
Baca Juga: Catat, Ini 5 Larangan di Bulan Muharram
Pada akhirnya, memahami hadis tentang bulan Safar membantu Sobat Wakaf menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh keyakinan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan hanya karena pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Yang terpenting adalah menjaga kualitas ibadah dan terus berbuat kebaikan kapan pun waktunya.
Semoga penjelasan ini bisa meluruskan pemahaman yang mungkin selama ini keliru. Mari jadikan setiap bulan, termasuk Safar, sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya melalui amal jariyah seperti wakaf yang pahalanya terus mengalir tanpa mengenal waktu.
Yuk, klik tombol di bawah!

