Beranda

Program

Kabar Wakaf

Akun

Wakaf Salman

Apakah Safar Bulan Sial?

Sobat Wakaf, pernahkah mendengar anggapan bahwa safar bulan sial sehingga banyak orang enggan melangsungkan pernikahan, memulai usaha, atau bepergian jauh di bulan ini? Kepercayaan semacam ini ternyata sudah ada sejak zaman jahiliyah dan sampai sekarang masih dipercaya sebagian masyarakat. Padahal dalam ajaran Islam, tidak ada satu pun bulan yang secara inheren membawa nasib buruk. Semua ketentuan baik dan buruk sepenuhnya berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala, bukan pada nama bulan tertentu.

Jadi, apakah Safar bulan sial? Mari kita bersama-sama mengupas dari mana asal mula anggapan tersebut muncul, apa penjelasan Al Quran dan hadis mengenai hal ini, serta bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim. Dengan memahami penjelasan yang tepat, Sobat Wakaf bisa terhindar dari keyakinan yang keliru dan tidak berdasar. Yuk, simak pembahasan lengkapnya sampai akhir supaya tidak salah kaprah lagi.

Asal Usul Anggapan Bahwa Safar Bulan Sial

Kepercayaan Masyarakat Arab Jahiliyah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab jahiliyah memang memiliki banyak kepercayaan yang berkaitan dengan pertanda buruk atau thiyarah. Bulan Safar dianggap sebagai waktu penuh malapetaka karena dikaitkan dengan wabah penyakit dan musim paceklik yang sering terjadi pada masa itu. Ada pula anggapan bahwa pada bulan ini banyak ular berbisa keluar dari sarangnya sehingga menimbulkan korban jiwa. Dari sinilah lahir mitos turun-temurun yang akhirnya tersebar luas di tengah masyarakat.

Kepercayaan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi tanpa dasar yang jelas. Banyak orang pada masa itu menghindari pernikahan, perjalanan jauh, bahkan transaksi bisnis penting selama bulan Safar berlangsung. Kebiasaan ini pun terbawa hingga ke berbagai budaya, termasuk sebagian masyarakat di Indonesia. Meski zaman sudah berubah, jejak kepercayaan lama ini masih terasa di beberapa daerah sampai hari ini. Itulah yang membuat masyarakat beranggapan bahwa Safar bulan sial.

Baca Juga: Kapan Bulan Safar 2026 Berlangsung?

Islam Datang Meluruskan Keyakinan yang Keliru

Ketika Islam hadir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara tegas meluruskan berbagai keyakinan yang tidak berdasar, termasuk soal kesialan bulan Safar. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, bukan akibat dari nama bulan atau hari tertentu. Konsep thiyarah atau merasa bernasib sial karena suatu tanda termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Bahkan sebagian ulama menggolongkannya sebagai bentuk kesyirikan kecil karena menyandarkan takdir pada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Perubahan pola pikir ini menjadi salah satu bukti bagaimana Islam membawa pencerahan di tengah kegelapan zaman jahiliyah. Umat muslim diajarkan untuk senantiasa bertawakal dan yakin bahwa rezeki, jodoh, dan ajal sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada waktu yang lebih baik atau lebih buruk dari waktu lainnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Justru yang membedakan kualitas seorang hamba adalah amal dan ketakwaannya, bukan bulan kelahiran atau bulan pernikahannya.

Dalil dan Hadis Seputar Bulan Safar

Hadis Rasulullah tentang Tidak Ada Kesialan pada Suatu Waktu

Terdapat hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada burung yang membawa pertanda buruk, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Hadis ini menjadi dasar utama bagi umat Islam untuk menolak segala bentuk kepercayaan takhayul yang berkaitan dengan waktu tertentu, seperti anggapan Safar bulan sial. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin memastikan bahwa umatnya memiliki akidah yang lurus dan tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang beredar di masyarakat. Dengan hadis ini, jelas bahwa anggapan bulan Safar membawa kesialan tidak memiliki landasan sama sekali dalam ajaran Islam.

Selain hadis tersebut, banyak riwayat lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam aktif meluruskan pemahaman para sahabat terkait hal-hal yang berbau mistis. Beliau senantiasa mengajarkan pentingnya berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kondisi apa pun. Sikap optimis dan tawakal jauh lebih dianjurkan dibandingkan rasa takut yang tidak berdasar. Inilah salah satu keindahan ajaran Islam yang membebaskan umatnya dari belenggu ketakutan tanpa alasan jelas.

Pendapat Para Ulama Mengenai Mitos Ini

Para ulama sepakat bahwa meyakini bulan Safar sebagai bulan sial termasuk kepercayaan yang bertentangan dengan akidah Islam. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam salah satu karyanya menjelaskan bahwa keyakinan seperti ini adalah warisan jahiliyah yang harus ditinggalkan sepenuhnya. Ulama kontemporer pun kerap mengingatkan umat agar tidak terjebak pada tradisi turun-temurun yang tidak memiliki dasar syar’i. Keyakinan semacam ini justru dapat melemahkan tauhid seseorang jika dibiarkan berlarut-larut.

Beberapa ulama juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat awam agar tidak mudah percaya pada mitos yang beredar dari mulut ke mulut. Edukasi ini penting dilakukan secara berkelanjutan, terutama di daerah yang masih kental dengan tradisi lama. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat akan lebih tenang menjalani hari-hari di bulan Safar tanpa rasa cemas berlebihan. Pada akhirnya, ilmu agama yang benar akan membawa ketenangan batin bagi siapa saja yang mengamalkannya.

Baca Juga: Doa Bulan Safar Agar Terhindar Bahaya

Setelah memahami penjelasan dan sejarah singkat mengenai anggapan Safar bulan sial, jelas bahwa anggapan bulan Safar membawa kesialan hanyalah warisan kepercayaan jahiliyah yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan melalui hadisnya bahwa tidak ada satu waktu pun yang secara khusus membawa nasib buruk bagi manusia. Semua ketentuan baik dan buruk sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Sobat Wakaf tidak perlu khawatir berlebihan saat menjalani bulan ini.

Sebagai gantinya, alangkah baiknya jika bulan Safar diisi dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan seperti berwakaf untuk kepentingan umat. Dengan pemahaman yang benar, kita bisa terhindar dari keyakinan keliru sekaligus semakin dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Mari terus belajar agama dengan sumber yang benar agar tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang beredar di masyarakat.

Yuk, klik tombol di bawah!

    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Copyright © 2026 Wakaf Salman. All Rights Reserved.