Beranda

Program

Kabar Wakaf

Akun

Wakaf Salman

Apa yang Dilakukan Rasulullah di Bulan Safar?

Apa yang dilakukan Rasulullah di bulan Safar sering menjadi pertanyaan ketika memasuki bulan kedua dalam kalender Hijriah. Tidak sedikit pula yang masih mengaitkan bulan Safar dengan kesialan, musibah, atau waktu yang kurang baik untuk menikah, bepergian, maupun memulai usaha.

Padahal, jika merujuk kepada Al-Qur’an, hadis-hadis shahih, dan penjelasan para ulama, tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Justru Rasulullah ﷺ meluruskan berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat Arab saat itu.

Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah di bulan Safar? Dan adakah amalan khusus yang beliau contohkan? Mari kita bahas berdasarkan sumber-sumber yang paling kredibel.

Apa yang Dilakukan Rasulullah di Bulan Safar Menurut Hadis?

Jika ditelusuri dalam hadis-hadis shahih, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki ibadah khusus yang hanya dilakukan pada bulan Safar.

Beliau tetap menjalankan kehidupan sebagaimana biasanya: salat berjamaah, berpuasa sunnah pada hari-hari yang dianjurkan, bersedekah, berdakwah, bermuamalah, serta memimpin umat.

Hal yang justru paling menonjol adalah bagaimana Rasulullah ﷺ menghapus keyakinan bahwa Safar merupakan bulan pembawa sial.

Beliau bersabda:

“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung pembawa pertanda, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”

(HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)

Hadis ini menjadi landasan utama bahwa Islam menolak berbagai bentuk tahayul yang menganggap Safar sebagai bulan yang membawa nasib buruk.

Baca Juga: Apakah Safar Bulan Sial?

Rasulullah Tetap Beraktivitas seperti Biasa

Kalau kita melihat perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ, beliau tidak pernah menghentikan aktivitas hanya karena memasuki bulan Safar.

Sebaliknya, dalam berbagai riwayat sirah (sejarah Nabi), Rasulullah ﷺ tetap:

  • Berdakwah kepada masyarakat.
  • Mengirim utusan ke berbagai wilayah.
  • Memimpin beberapa ekspedisi.
  • Bermuamalah dan memenuhi kebutuhan keluarga.
  • Berinteraksi dengan para sahabat seperti hari-hari lainnya.

Artinya, tidak ada larangan untuk bekerja, bepergian, menikah, atau memulai usaha pada bulan Safar.

Bahkan, sebagian peristiwa penting dalam sejarah Islam juga terjadi pada bulan ini. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti.

Tidak Ada Doa Khusus Bulan Safar

Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah apakah ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah ﷺ selama bulan Safar.

Jawabannya, tidak ada hadis shahih yang menjelaskan adanya doa tertentu yang hanya dibaca ketika memasuki bulan Safar.

Begitu pula dengan salat khusus, puasa khusus, atau ritual tertentu yang dikaitkan dengan penolak bala di bulan Safar. Para ulama menjelaskan bahwa amalan-amalan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dari Rasulullah ﷺ.

Sebaliknya, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa yang memang diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti doa memohon keselamatan, perlindungan, dan keberkahan yang dapat dibaca kapan saja.

Apa Amalan yang Sebaiknya Dilakukan di Bulan Safar?

Kalau tidak ada ibadah khusus, apakah berarti tidak ada amalan yang bisa dilakukan?

Tentu saja ada.

Memperbanyak Amal Saleh

Rasulullah ﷺ tidak pernah membatasi amal kebaikan hanya pada bulan tertentu.

Karena itu, Safar bisa menjadi momentum untuk memperbanyak:

  • Salat sunnah.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Berdzikir.
  • Beristighfar.
  • Bersedekah.
  • Menjaga silaturahmi.

Amalan-amalan tersebut memiliki dalil yang jelas dan dapat dilakukan sepanjang tahun.

Meluruskan Keyakinan yang Keliru

Salah satu pelajaran terbesar dari hadis tentang Safar adalah pentingnya menjaga akidah.

Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bulan Safar sebagai bulan penuh sial sehingga menghindari akad nikah, pindah rumah, membuka usaha, atau bepergian.

Padahal Rasulullah ﷺ justru menghapus keyakinan tersebut.

Seorang Muslim diajarkan untuk bertawakal kepada Allah, bukan kepada mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar syariat.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…”

(QS. At-Taubah: 51)

Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena waktu, tanggal, atau bulan tertentu.

Memperbanyak Sedekah dan Berbuat Baik

Walaupun tidak ada anjuran khusus mengenai sedekah di bulan Safar, memperbanyak sedekah tetap menjadi amalan yang sangat dianjurkan kapan pun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”

(HR. Muslim no. 2588)

Sedekah menjadi salah satu bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus sarana membantu saudara-saudara yang membutuhkan.

Hikmah Bulan Safar bagi Seorang Muslim

Kalau diperhatikan, pembahasan tentang apa yang dilakukan Rasulullah di bulan Safar sebenarnya memberikan pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini.

Banyak orang masih mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, termasuk berbagai mitos mengenai waktu-waktu tertentu yang dianggap membawa sial.

Padahal Islam mengajarkan agar setiap keyakinan dibangun di atas dalil yang shahih, bukan berdasarkan cerita turun-temurun.

Safar menjadi pengingat bahwa seorang Muslim hendaknya lebih mengutamakan ilmu daripada prasangka. Kita diajak untuk tetap produktif, bekerja, beribadah, dan berbuat baik tanpa dibayangi rasa takut terhadap sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Jadikan Safar sebagai Momentum Menebar Kebaikan

Jika tidak ada amalan khusus pada bulan Safar, bukan berarti bulan ini berlalu tanpa makna.

Justru inilah kesempatan untuk membiasakan amal-amal yang dicintai Allah secara konsisten. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”

(HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)

Salah satu amal yang manfaatnya terus mengalir adalah sedekah jariyah melalui wakaf. Berbeda dengan sedekah yang manfaatnya mungkin selesai dalam waktu singkat, wakaf dapat terus memberikan manfaat selama asetnya digunakan untuk kepentingan umat, seperti pembangunan masjid, sekolah, penyediaan air bersih, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Doa Bulan Safar Agar Terhindar Bahaya

Dengan demikian, bulan Safar dapat menjadi awal yang baik untuk memulai kebiasaan beramal yang manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi berikutnya.

Pertanyaan tentang apa yang dilakukan Rasulullah di bulan Safar sebenarnya memiliki jawaban yang sederhana. Beliau tidak mengkhususkan ibadah tertentu, tidak menganggap Safar sebagai bulan sial, dan tetap menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya.

Pelajaran terbesar dari bulan Safar justru terletak pada bagaimana Rasulullah ﷺ meluruskan keyakinan masyarakat agar tidak terjebak dalam tahayul dan prasangka yang tidak memiliki dasar.

Maka, daripada sibuk mencari ritual yang tidak pernah dicontohkan, lebih baik kita mengisi bulan Safar dengan amal-amal yang jelas tuntunannya: memperbanyak ibadah, membantu sesama, menjaga silaturahmi, dan menanam amal jariyah melalui sedekah maupun wakaf. Itulah teladan yang lebih dekat dengan ajaran Rasulullah ﷺ dan lebih bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Yuk, klik tombol di bawah!

    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Wakaf Salman
    • Copyright © 2026 Wakaf Salman. All Rights Reserved.